Sabtu, 03 Mei 2014

Pendidikan

Hari pendidikan nasional baru saja lewat beberapa menit yang lalu kemudian aku ingin menuliskan tentangnya. Tanggal 2 Mei selalu menjadi hari yang dirayakan sebagai hari pendidikan nasional. Semua orang riuh mengucapkan selamat juga sibuk melaksanakan upacara juga beberapa perayaan lainnya seperti demonstrasi, aksi tebar bunga pada guru, dll.
Pendidikan indonesia yang masih banyak masalah jadi topik dalam banyak kultwit, artikel, opini, kritik, dll. Isinya banyak tentang sistem pendidikan yang salah bahkan ada yang berani memberikan rapor merah pada mendikbud.
Aku sendiri entah ingin merayakannya seperti apa hingga detik-detik tanggal 2 Mei berlalu pergi aku tak melakukan apa-apa untuk memperingatinya. Bagiku pendidikan Indonesia membuatku speechless.
Well, dalam kesempatan tulisan kali ini bukan ingin mengkritik perayaan hardiknas melainkan aku ingin sedikit mencurahkan isi hati tentang kurikulum yang baru, yaitu kurikulum 2013.
Kurikulum 2013 terlepas dari segala kontroversinya aku cukup setuju dengan adanya kompetensi inti yang mengikutsertakan untuk mengenal tuhan dan menjadi kompetensi inti pertama. Kompetensi inti yang tercantum dalam kurikulum 2013 itu ada empat. Kurang lebih point pertama itu adalah tentang mendekatkan diri kepada sang pencipta setelah memperlajari sebuah mata pelajaran kemudian poin kedua tentang perilaku siswa setelah belajar. Kompetensi inti yang ketiga adalah mengenai materi yang dipelajari siswa tersebut dan yang keempat mengenai aplikasinya.
Yang jadi fokus perhatian saya pada kali ini adalah mengenai poin satu dan tiga dalam kompetensi inti kurikum 2013. Saya senang saat tujuan pendidikan nasional kita menjadi tujuan dalam pembelajaran karena selama ini antara pembelajaran dengan tujuan nasional itu timpang.
Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya
Begitulah isi dari kompetensi inti poin satu. Selama ini pendidikan bahkan mungkin disetiap bidang telah terjadi sekulerisme atau pemisahan antara agama dengan non agama sehingga terjadi kerusakan-kerusakan yang merugikan akibat tidak diikutsertakannya aturan agama yang adil dalam pelaksanaannya. Banyak dampak dari upaya sekulerisasi ini salah satunya adalah anak yang ikut serta dalam kegiatan pembelajaran semakin banyak belajar semakin tinggi tingkat pendidikannya tapi tidak sedikit yang tidak mengenal baik penciptanya dan agama yang dianutnya. Semakin tinggi tingkat pendidikannya tidak membuat seseorang semakin santun, menahan diri, dll.
Maka upaya minimalisasi upaya sekulerisasi dalam pendidikan dengan membuat kompetensi inti semacam itu adalah sebuah langkah yang baik. Namun, masalahnya kini apakah materi yang disampaikan oleh guru bisa mencapai kompetensi inti tersebut? Terlebih isi materi.
Aku bukan seorang yang anti barat sehingga menolak apa-apa yang datang dari barat, tapi aku bukan orang yang menelan semua yang datang dari barat. Aku berusaha untuk mengambil manfaatnya dan meninggalkan yang mudharatnya. 
Kemajuan ilmu pengetahuan beberapa tahun terakhir sangatlah pesat hingga dapat membuat teknologi semakin maju dengan pesat dan kini kita menikmatinya. Saya akui semua kemajuan itu datang dari ilmuwan barat seperti Newton, Einstein, De Broglie, Schrodinger, dll. Tapi, apakah isi teori yang mereka kemukakan tidak bertentangan dengan aqidah yang kita imani? Seperti misalnya teori relativitas Einstein yang dalam masa post modern ini sedang booming dengan relativitas kebenaran sehingga ada atau tidaknya Tuhan pun adalah sebuah relativitas. Juga mengenai hukum kekekalan energi yang selama ini kita pahami dari mata pelajaran fisika di Sekolah menjelaskan bahwa tidak ada yang dapat menciptakan energi dan menghancurkan energi. Hukum itu berakibat fatal pada kepercayaan mengenai hari akhir dan sifat Allah SWT yang maha pencipta.
Aku bukan mau mengungkapkan teori-teori yang bertentangan dengan ajaran islam melainkan ingin menyadarkan bahwa ada materi-materi yang tidak sesuai dengan ajaran islam dan dalam menyikapi hal tersebut bukan dengan menolak dan meninggalkannya melainkan dengan meluruskannya.
Upaya meluruskan hal ini banyak yang menyebutnya dengan islamisasi ilmu. Ilmu pengetahuan terutama IPA tidaklah bersifat netral. Semua teori yang kita pelajari dari IPA tidaklah bersifat fakta melainkan sebuah penafsiran seorang ilmuwan terhadap fakta kejadian alam. Yang ingin ditekankan adalah bahwa proses islamisasi ilmu itu bukan menamai komputer islami, sepeda islami, hape islami, dll, melainkan meluruskan penafsiran fakta kejadian alam dengan kerangka pandang islami sehingga antara ilmu pengetahuan dengan agama tak lagi berbentrokan. Dengan demikian, semoga kompetensi inti poin pertama dapat dicapai dengan baik.
Wallahu’alam

Rabu, 30 April 2014

Kehidupan dan Kematian

Hidup dan mati adalah sebuah pasangan yang tak bisa dipisahkan. Tak ada mati jika tak ada hidup dan Semua akan mati jika semua hidup. Begitulah kira-kira keterkaitan yang hidup dan yang mati. 
Kita manusia yang dilahirkan ke dunia telah menerima kehidupan maka siap-siap lah kita akan menerima kematian. Sebenarnya kita sudah pernah mengalami kematian setidaknya dua kali. Pertama kematian yang memutuskan kehidupan kita di alam ruh kemudian kedua kematian yang memutuskan kehidupan kita di alam rahim. 
Pada hakikatnya dalam pandangan islam kehidupan seorang manusia sudah ada sejak ia berada dalam alam ruh. Dimana ruh-ruh manusia diciptakan sebelum jasadnya diciptakan. Kemudian alam rahim dimana jasad manusia diciptakan dan ruh pun dimasukkan ke dalam jasad tersebut. Kemudian ia lahir ke dunia dan ia menikmati alam dunia. 
Pada fase di alam Dunia ini kemudian manusia yang diberi kesempatan menikmatinya disebut hidup karena bernyawa. Pada fase ini pulalah banyak orang yang salah kaprah tentang kehidupan di dunia. Mereka berpikir dunia adalah tempat yang kekal untuk mereka tinggali sehingga mereka berlomba-lomba mengumpulkan harta dengan segala cara. Mereka melupakan bahwa sesungguhnya dunia hanyalah persinggahan sementara saja. Pada akhirnya kita akan ‘mati’ untuk ketiga kalinya.
Dunia adalah tempat manusia untuk mengumpulkan perbekalan hidup di alam kubur juga di akhirat. Perbekalan yang dikumpulkan berupa amal bukan harta serupa uang dan emas. Kita mendapatkan nikmat atau azab tergantung pada perbekalan yang kita bawa. Kita mendapatkan hidup di surga atau neraka tergantung pada bekal yang kita bawa. 
Kemudian kita kembali ‘mati’ untuk ketiga kalinya. Hakikat kematian bagi saya adalah terputusnya kita dengan alam yang kita tinggali. Pada saat kita menghuni alam ruh kita ‘mati’ saat Allah SWT masukan kita ke dalam jasad kita di alam rahim. Kemudian saat kita di alam rahim kita menerima jasad secara utuh selama 9 bulan kemudian kita ‘mati’ lagi saat kita lahir ke alam Dunia. Saat kita tinggal di alam Dunia maka kita akan ‘mati’ lagi dan kita akan hidup di alam kubur. Saat kiamat datang maka kita akan ‘mati’ dan hidup dalam keabadian entah di neraka atau di surga. 
Dalam banyak kamus kita memahami bahwa mati adalah hilangnya nyawa seseorang atau berhentinya semua sistem yang bekerja pada jasadnya. Juga banyak orang yang memahami bahwa kematian itu adalh terhentinya kehidupan seseorang dan ia takkan menerima kehidupan lainnya. Seolah hilang begitu saja. 
Pemahamn semacam itu adalah hidup dan mati untuk jasad kita karena pada hakikatnya yang hidup adalah ruh kita. Hakikat dari seorang manusia adalah ruhnya.
Alam kubur dan alam akhirat adalah alam dimana manusia akan menerima konsekuensi dari setiap perbuatannya selama di dunia. Jika tidak melewati fase dunia ia sudah mengkavling tempat di surga. 
Alam akhirat adalah alam yang kekal yang artinya setelah hari kiamat kemudian hari pertimbangan, dan hari pembalasan maka neraka atau surga adalah tempat yang kekal yang akan kita tinggali. Di sana pulalah mungkin pasangan hidup dan mati bercerai.
Selaras dengan puisi karya  Sapadi Djoko Damono
Yang Fana adalah Waktu
Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa.
“Tapi,
yang fana adalah waktu, bukan?”
tanyamu. Kita abadi.
1978
Wallahu’alam

Selasa, 07 Januari 2014

[Renungan] Komitmen Da'i Sejati

Jika komitmen terhadap dakwah benar-benar tulus …, 
maka tidak akan banyak da’i yang berguguran di tengah jalan.
Dakwah akan terus melaju dengan mulus untuk meraih tujuan-tujuannya da
n mampu memancangkan prinsip-prinsipnya dengan kokoh.
Jika komitmen terhadap dakwah benar-benar tulus …, 
niscaya hati sekian banyak orang akan menjadi bersih, pikiran mereka akan bersatu, dan fenomena ingin menang sendiri saat berbeda pendapat, akan jarang terjadi.
Jika komitmen da’i benar-benar tulus …, 
maka sikap toleran akan semarak, saling mencintai akan merebak, hubungan persaudaraan semakin kuat, dan barisan para da’i akan menjadi bangunan yang berdiri kokoh dan saling menopang.
Jika komitmen da’i benar-benar tulus …, 
maka dia tidak akan peduli saat ditempatkan di barisan depan atau belakang.
Komitmennya tidak akan berubah ketika dia diangkat menjadi pemimpinyang berwenang menentukan keputusan dan ditaati
atau hanya sebagai jundi yang tidak dikenal atau tidak dihormati.
Jika komitmennya benar-benar tulus …, 
maka hati seorang da’i akan tetap lapang untuk memaafkan setiap kesalahan saudara-saudara seperjuangannya, sehingga tidak akan tersisa tempat sekecil apapun untuk permusuhan dan dendam.
Jika komitmen terhadap dakwah benar-benar tulus …, 
maka sikap toleran dan memaafkan akan terus berkembang, sehingga tidak ada momentum yang bisa menyulut kebencian, menaruh dendam, dan amarah.
Namun sebaliknya, semboyan yang diusung bersama adalah “saya sadar bahwa saya sering melakukan kesalahan, dan saya yakin anda akan selalu memaafkan saya.”
Jika komitmen da’i benar-benar tulus …, 
maka tidak mungkin akan terjadi kecerobohan dalam menunaikan kewajiban dan tugas dakwah.
Namun yang terjadi adalah fenomena berlomba-lomba untuk melakukan kebaikan dan bersungguh-sungguh untuk mencapai derajat yang lebih tinggi.
Jika komitmen da’i benar-benar tulus …, 
maka semua orang akan sangat menghargai waktu. Bagi setiap da’i, tidak ada waktu yang terbuang sia-sia karena dia akan menggunakannya untuk ibadah kepada Allah di sudut mihrab, atau berjuang melaksanakan dakwah dengan menyeru kepada kebaikan atau mencegah kemungkaran.
Atau menjadi murabbi yang gigih mendidik dan mengajari anak serta istrinya di rumah.  Da’i yang aktif di masjid untuk menyampaikan nasihat dan membimbing masyarakat.
Jika komitmennya benar-benar tulus …, 
maka setiap da’i akan segera menunaikan kewajiban keuangannya untuk dakwah tanpa dihinggapi rasa ragu sedikit pun.  Semboyannya adalah “apa yang ada padamu akan habis dan apa yang ada di sisi Allah akan kekal.”
Jika komitmennya benar-benar tulus …, 
maka setiap da’i akan patuh dan taat tanpa merasa ragu atau bimbang.  Di dalam benaknya, tidak ada lagi arti keuntungan pribadi dan menang sendiri.

Jika komitmen da’i benar-benar tulus …, 

maka akan muncul fenomena pengorbanan yang nyata.
Tidak ada kata “ya” untuk dorongan nafsu atau segala sesuatu yang seiring dengan nafsu untuk berbuat maksiat.
Kata yang ada adalah kata “ya” untuk setiap perbuatan yang mendekatkan diri kepada Allah.
Jika komitmen para da’i benar-benar tulus…,
maka setiap anggota akan menaruh kepercayaan yang tinggi kepada pemimpin fikrah. Setiap yang bergabung akan melaksanakan kebijakan pimpinannya dan menegakkan prinsip-prinsip da’wah di dalam hatinya
Jika komitmen terhadap dakwah benar-benar tulus …, 
maka setiap orang yang kurang teguh komitmennya akan menangis, sementara yang bersungguh-sungguh akan menyesali dirinya karena ingin berbuat lebih banyak dan berharap mendapat balasan serta pahala dari Allah.
[Komitmen Da'i Sejati - Muhammad Abduh]
Dapet nemu dr blog orang

Kamis, 26 Desember 2013

MENERIMA

"Hati manusia seperti pantulan di permukaan air. Mulut selalu berkata hal yang berlawanan dengan hati. Namun, sebenarnya, di dalam lubuk hati manusia ingin saling menerima satu sama lain." _Naruto Shippuden chapter 660_

Hati. Sudah sangat tak asing untuk diterima oleh syaraf yang ada di dalam otak kita. Apa yang kita ingat jika ia sampai di otak kita? Soal penjelasan yang disampaikan oleh Rasulullah yang diriwayatkan dalam hadits oleh Bukhari muslim bahwa "ingatlah sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh tubuhnya dan apabila ia buruk maka buruklah seluruh tubuhnya.ingatlah ia adalah hati" Hati bagiku adalah tempat bergumulnya perasaan-perasaan, baik perasaan yang baik atau perasaan yang buruk. Hati juga adalah tempat sebuah perasaan bernama "ikhlas/menerima"
Aku menyadari banyak masalah yang kualami dan sumber masalah itu semua cuma satu, yaitu sulit menerima masalah. Well, masalah itu adalah timpangnya antara harapan dan kenyataan. Jadi yang jadi masalah atas masalah dalam kehidupan kita adalah karena kita tidak menerima kenyataan yang sangat timpang atas harapan yang kita miliki.
Menerima adalah sebuah bentuk perasaan yang juga anggota dari hati kita. orang lebih familiar dengan kata ikhlas untuk perasaan sejenis ini. Perasaan ini penting sekali dalam hati kita jika ia tak hadir maka akan muncul si dengki, si riya, si hasad, dan si si si yang lain. Dalam pemahamanku selama ini perasaan-perasaan yang terbit di hati mempengaruhi apa-apa yang kita lakukan. Liat saja si dengki jika sudah menguasai bisa-bisa kita tak lagi adil bersikap pada orang lain hanya karena ia memiliki sesuatu yang tak kamu punya dan apa sebabnya? hanya kerana tak menerima bahwa kamu tak memiliki yang ia miliki dan banyak lagi.
Seperti yang dijelaskan oleh gambar ini yang diambil dari Naruto Shippuden chapter 660
 Gambar ini menjelaskan soal seseorang yang bisa hidup dengan kondisi apapun. Apakah ia hanya hidup dengan berteman hanya dengan monster yang justru membencinya atau tentang dilupakan oleh orang bahkan namapun tak diingat siapapun. Benar-benar hanya menerima kondisi apapun. Menerima. Tak ada lagi dengki, marah, riya, hasad, de el el. 
Benar-benar ya solusi hidup itu cuma ikhlas mungkin dengan begitu syukur juga akan ikut juga sabar akan mengiringi helaan denyut si hati. Ah

Kamis, 12 Desember 2013

Berjuang Tanpa Lingkaran

Mungkin inilah efek samping meninggalkan ruang dimensi bernama halaqoh. Sudah 6 pekan ruang bernama halaqoh itu ditinggalkan. Alasannya? simpel, Tidak nyaman. Halaqoh secara harfiah adalah lingkaran dalam lingkungan tarbiyah bermakna sebuah kelompok untuk menimba ilmu, bersilaturahmi, merekatkan ukhuwah, dan memecahkan persoalan. Halaqoh adalah aktivitas penting dalam lingkungan tarbiyah bahkan menjadi syarat utama seseorang untuk tergabung dalam lingkungan ini.
Efek samping yang kualami saat meninggalkan halaqoh atau seringnya kusebut dengan nama lingkaran itu adalah sibuk dengan dunia sendiri. Dunia yang pernah dulu kudalami. Dunia anime, jepang, idol grup, dll. Banyak amalan yang ditinggalkan. Selain itu juga jadi tertinggal dari informasi-informasi penting. Banyak melakukan hal yang sia-sia dan masih banyak lagi yang menjadi efek samping saat meninggalkan lingkaran.
Tapi harusnya aku sadar bahwa bukan karena lingkaran aku jadi rajin beramal atau beribadah. Mungkin dulu patut kupertanyakan niat mengikuti lingkaran atau melakukan sederet amalan yaumiyah yang selalu dimonitor oleh seorang mentor.
Kini dengan tanpa lingkaran tujuan hidupku, setiap langkah hidupku harusnya hanya karena atau untuk Allah SWT dan Rasulullas SAW. Seperti yang disebut oleh hadits arba'in nomer satu. Efek-efek samping akibat meninggalkan lingkaran harus segera kutepis dan menunjukan pada Allah SWT bahwa semua yang kulakukan adalah karenaNya. Mungkin dengan lingkaran perjuangan itu jadi ringan tapi kini dengan tanpa lingkaran maka akan sangat berat jadi harus berjuang terus-terusan.
Dengan begini sebenarnya aku ingin kembali tanpa penyesalan atau tanpa permohonan yang belum terkabulkan. Aku ingin kembali dengan perasaan bahagia dengan perasaan yang puas. Bisa aku pasti bisa meski harus berjuang tanpa lingkaran! Bismillah...

Rabu, 04 Desember 2013

Kawan

Dahulu aku pernah berpikir
Suatu saat aku akan berubah
Dahulu aku pernah berharap
Aku tak seperti diriku kini
Dahulu aku pernah mencoba merasa
Bagaimana tidak menjadi diri seperti ini
Berulang kali aku bertanya
Kapan itu akan terjadi
Kapan aku tak lagi seperti kala itu
Kini aku berpikir
Mungkinkan kini hal itu akan terganti?
Mungkinkan hal ini telah bermula?
Perubahan itu
Perubahan yang kuharapkan
Perubahan dimana aku tak lagi membenci diri sendiri
Atau Berharap aku ingin lenyap
Jika iya
Aku ingin seorang kawan mendampingi
Akankah itu kamu?
Entahlah
Sampai saat ini aku menjejaknya seorang diri
Tapi benar aku butuh kawan
Ah mengapa aku mempersulit diri untuk mencari
Jika kawan yang kubutuhkan adalah seorang yang sempurna
Seorang yang tahu jawaban kala aku bertanya
Seorang yang meluruskan kala aku menyimpang
Seorang yang melerai gundah kala resah sesak di dada
Seorang yang memercikan bahagia kala duka tengah menjejal rasa
Adakah kawan yang seperti itu?
Jika ada aku ingin bertemu denganmu
Saling mengenggam erat untuk menjaga
Adakah?

Aku akan menunggunya
Meski bilangan tahun
Meski kulitku telah keriput
atau tulangku telah rapuh

Tapi itu terlalu sia-sia
Aku membutuhkannya sekarang
Saat perubahan telah mulai nampak
Saat keinginan untuk lenyap telah lenyap

Tapi siapa?
Adakah tuhan telah membisikannya padamu?

Ah, aku ingat saat manusia agung itu telah tiada
Ia berkata telah mewariskan dua hal
Apa?
Al-Quran dan As-Sunnah
Cukuplah mereka sebagai kawan
Mereka akan menjadi sesuatu yang aku harapkan
Mudah-mudahan

Jumat, 29 November 2013

Balada Hujan: Masa kelam tergantikan oleh masa terang

Disclaimer: Masashi Kisimoto
story by me
pairing ShikaTema
Rating T
warning OOC


Aku melihat tetesan air mata di sudut matamu. Mengalir syahdu di kedua pipimu.
"Ada apa?" tanyaku kembut seraya menghapus air mata yang membentuk sungai di kedua pipimu. Kamu tak menjawab, hanya melingkarkan lengan di pinggangku dan menenggelamkan kepalamu di bahuku. Tangis yang air matanya sudah kuhapus tadi berubah menjadi isak yang menggugu. Kesedihanmu mengalir pada hatiku. Beberapa tetes air mata pun mengawali tangisku.
"Mengapa kamu menangis Shikamaru?" tanyaku lembut seraya mengusap punggungnya yang bidang itu. Cukup lama tak ada jawaban. Kamu masih sibuk menangis membasahi bahuku. Aku diam menebak-nebak sebab yang membuatmu bersedih hati. Aku menyimpulkan beberapa, tapi tetap saja kutunggu jawabmu.
"Temari, aku kehilangan harapan dari sosok yang selalu menebarkan bibit harapan," jawabnya seraya melepaskan lingkaran lengan di pinggangku dan mengangkat wajahnya dari bahuku, menatap kedua mataku dengan syahdu.
"Ayahmu?" tanyaku ragu yang kamu balas dengan anggukan pelan. Pandanganmu berpaling pada awan yang tengah menjelma menjadi cumulo nimbus menandakan hujan akan segera meramaikan sudut desa.
"Hidup itu adalah siklus. Seperti air. Ia menguap menjadi awan dan turun menjadi hujan kembali menjadi air. Pun manusia ia diciptakan dalam bentuk ruh diberi kesempatan turun ke bumi menerima jasad dan akan mati untuk kembali menjadi ruh," ujarku berupaya menyemangatinya dengan berfilosofi tentang hidup. Pandanganmu lurus ke awan, menerawang, mengais keyakinan, dan menguatkan harapan.
"Jika kau pikir hujan adalah masa kelam maka sabarlah ia akan berhenti dan menyingkir memberi kesempatan untuk matahari memberikan masa paling terang. Jika kau pikir kematian ayahmu adalah hal yang menyedihkan maka ikhlaskanlah ia akan terurai mengendap menjadi kenangan yang bersenandung dalam do'a. Sebaik-baik bakti dari seorang anak adalah do'a," ujarku terus berupaya menguatkan hatimu. Kamu tidak seperti biasanya. terlalu suram. Kemana ekspresi malasmu yang selalu melekat di wajah malasmu? Kemana kata-kata yang kupikir hanya itulah yang hanya bisa kau ucapkan, Mendokusei?
Awan akhirnya luruh terpecah menjadi tetesan hujan yang deras. Menghentak bumi yang kering kerontang. Memerihkan luka para pemuran durja. Menyamarkan duka dan lara.
"Shikamaru, hujan ayo kita pergi!" ujarku seraya bangkit dan bersiap untuk lari mencari tempat teduh untuk berlindung. Tanganmu menahanku untuk tidak pergi.
"Jika hujan ini akan berakhir dan kegelapan akan tergantikan oleh cahaya. Temari, mau kah kamu menjadi cahaya untuk kehidupanku?" tanyamu lembut seraya menatap lekat kedua mataku. Aku terkejut, hati tersentak dan seolah berhenti berdetak.
"Apa maksudmu?" tanyaku ragu.
"Temari, jangan pergi dari hidupku!" katamu tegas yang juga tampak dari tatapan matamu yang dibasahi oleh hujan. Aku terkejut.
"Jadilah cahaya hidupku," ujarmu seraya menarik tubuhku dalam pelukanmu dengan erat. Aku membalas pelukan itu untuk menguatkan bahwa aku akan selalu berada disisinya, menjadi cahaya dalam hidupnya karena aku adalah istrinya.

Balada Hujan: Hujan Tak Usah Berhenti!

Rinai hujan tengah berdendang memenuhi ruang yang disebut bumi. Aku tertahan di sebuah café yang menyediakan kopi, teh, coklat dan berbagai jenis kue. Aku bekerja disini. Orang biasa nya datang untuk sekedar mengobrol sambil menyeruput secangkir kopi panas ditemani sepotong kue, tapi tidak dengan kamu yang hanya terbiasa duduk di bangku taman sebrang café ini untuk melukis. Seringkali aku memergokimu melukis sebua danau yang tenang padahal kamu melukisnya di Jantung kota yang ramai atau melukis hutan dengan guguran daun-daun di musim gugur yang berwarna jingga padahal kamu melukisnya di musim dingin yang putih. Aku selalu memperhatikanmu dari kejauhan sambil melayani pelanggan. Kamu unik dengan wajahmu yang tanpa ekspresi meski sedang melukis.
Kali ini aku tak melihatmu di taman kota seberang café tempatku bekerja. Kamu tengah duduk di sofa di Sudut ruangan café ini. Kini kamu tengah melihat rintik hujan yang deras menumbuk jalanan beraspal. Sudah satu jam kamu duduk di sudut ruangan bersama secangkir capucinno dan red velvet yang tak juga kamu sentuh. Perhatianmu sepenuhnya tertuju pada jalanan yang becek dan berpola karena tetesan hujan yang menumbuknya. Aku ingin tahu apa yang kau pikirkan dengan mencoba membaca ekspresi wajahmu. Ah, tentu saja sulit karena wajahmu seperti biasa tanpa ekspresi.

Aku yang tak bisa sabar lagi untuk melihat apa yang akan kau lakukan dengan kopi dan kue yang kuyakin sudah sama dengan suhu ruangan memberanikan diri untuk menyapa yang jelas taka da dalam SOP pelayanan. Aku melakukannya untuk kepuasan tersendiri karena sejak lama hatiku terus bergetar saat memperhatikanmu dari kejauhan.
“Tuan, sepertinya kopi anda sudah dingin,” ujarku mulai menegurmu. Beberapa detik setelahnya kamu memalingkan wajahmu untuk sepenuhnya melihat ke arahku yang tengah tersenyum ramah. 
"Akan kuminum nanti setelah aku mau atau jika aku mau," ujarmu dingin tapi memaksakan diri untuk tersenyum. Di mataku senyummu terlalu dingin. Mengerikan. Kata itulah yang muncul dalam benakku.
"Baiklah. Selamat menikmati hari anda," ujarku yang kemudian undur diri untuk kembali ke balik lemari-lemari kue atau bar untuk menyiapkan kopi dan sebagainya.
Tiga puluh menit berlalu sejak aku menyapamu. Kulihat sekilas dirimu yang mengambil sketch book dan mulai menggoreskan pensil untuk membuat sebuah sketsa. Aku tetap melayani beberapa pelanggan yang datang dengan tubuh yang basah karena kehujanan. Tak perlu lama bagimu menyelesaikan sketsa itu. Kamu meletakkannya di meja dan mulai menyeruput kopi yang sudah dingin juga beberapa suap kue. 
Hujan pun akhirnya berhenti menyisakan jalanan yang becek dan suhu udara yang di bawah suhu ruangan membuat orang-orang merapatkan jaketnya untuk menghangatkan badan. Kamu yang berniat berteduh pun akhirnya bangkit dari duduk dan membereskan peralatan menggambar yang tadi sempat kamu keluarkan. Namun, kamu menyisakan selembar kertas yang tadi kau goreskan pensil untuk membuat sketsa di atasnya. Kamu beranjak meninggalkan sofa juga meninggalkan kopi yang masih setengah dan kue yang juga masih setengah. Kukira kamu akan langsung menuju pintu dan pergi meninggalkan cafe ini, tetapi kamu malah berjalan ke arahku.
"Terimakasih atas perhatiannya selama ini. Aku harus pergi. Ini hadiah untukmu. Aku takkan datang lagi," ujarnya seraya menyerahkan kertas sket yang tadi kau goreskan pensil untuk membuat gambar di atasnya. Kamu kemudian pergi dan menghilang dari pandanganku.
Hingga punggungnya tak bisa lagi ditangkap oleh mataku aku tak melihat gambar yang ia buat. Setelah punggung itu berlalu kualihkan mataku menuju kertas yang berisi gambarnya.
Seketika aku lari menyusul orang yang baru saja pergi meninggalkan cafe. Aku berusaha mengejarnya, tapi semuanya sudah terlambat aku tak bisa menemukannya. Seketika air mataku mengalir menangisi kepergiannya.
"Harusnya hujan tak usah berhenti hingga ia menahanmu untuk tak pergi meninggalkanku dan aku bisa menyeduhkan bercangkir-cangkir kopi untuk menemanimu" ujarku lemah sambil menangis.
Kertas yang ia berikan untukku berisikan sebuah gambar wanita yang tengah duduk di sebuah sofa di sudut ruangan cafe dan memandang ke seberang cafe tepatnya taman kota pandangannya begitu bahagia dan menunjukan rasa suka. Aku sadar itu aku. Di balik kertas yang berisikan gambar terdapat tulisan.
'Terimakasih atas perhatianmu dengan pandangan bernina-binar itu. Aku merasa terharu. Maaf kini aku akan hilang dari pandanganmu mungkin sofa yang kurasakan hangat ini akan terasa dingin karena tak ada yang sengaja duduk hanya untuk memperhatikan pria berambut hitam berwajah pucat tanpa ekspresi sedang melukis sesuatu. Selamat tinggal'