Senin, 23 Januari 2012

Ukhuwah Kita

Aku masih menatapmu. menatap dirimu yang sedang terduduk menatap kosong ke lantai berlapis karpet itu. Aku ragu untuk banyak bertanya sehingga jadilah aku hanya bertanya, "Sa, kamu kenapa?" dan kamu hanya menggeleng lemah tanpa bergairah untuk menjawab pertanyaanku.
Aku kembali terdiam dan hanya menatapmu lamat - lamat. Dalam benak aku bertanya. kenapa saudariku jadi aneh begini???. sudah hampir tiga pekan ia bersikap aneh. Tak di Kampus, di Kosan, di Organisasi. Ia benar - benar aneh. aku baru menyempatkan untuk mengunjungi kosannya hari ini saja. Kesibukanku di organisasi baru benar - benar tak tertahankan sehingga baru hari ini saja aku meluangkan waktu untuknya. Mungkin ini pun karena aku telah ditegur oleh seorang kakak tentang masalah ini. "adikku, teteh tau dirimu sibuk akhir - akhir ini. Tapi, jangan sampai kesibukanmu melupakan saudarimu sendiri. teteh dengar beberapa hari yang lalu Kisa gak punya uang sampai gak makan. jangan sampai kayak teteh menyesali saat saudari teteh membutuhkan teteh dan teteh tak kunjung datang untuk membantunya. Saat ini mungkin ia tak lagi sejalan dengan kita."
Jleb! aku terpekur cukup lama saat kakakku menasihati hal itu. Kemudian aku memutuskan untuk mengunjungi esok hari saat tugas organisasi ini tak terlalu padat. 
Saat aku hadir di kamarnya aku cukup sulit menemukan senyumnya. Ia hanya menatap datar kehadiranku. Aku mencoba biasa saat hadir di kamarnya. bertanya banyak hal. tapi tak ada jawaban. Ia hanya menjawab secukupnya. Melakukan banyak hal tanpa mempedulikan aku. Aku mencoba untuk menunggu lebih lama kemudian menceritakan pertemuanku dengan kakak yang telah menjelaskan kondisinya saat ini. Ia hanya membantah dan meyakinkan bahwa ia baik - baik saja.
Kemudian datanglah seorang teman kosanmu. Ia pun sama bertanya banyak hal yang kau respon dengan datar tak semangat. Kemudian kami memutuskan untuk melakukan persidangan padamu. Bertanya banyak hal dengan penuh pemaksaan. Ragu - ragu kamu menjawab. Kamu hendak bercerita banyak tapi langsung urung kembali. Sampai akhirnya aku harus pulang, tapi kamu masih belum mau bercerita banyak hal. 
Berminggu - minggu sejak kejadian itu kau kembali ceria. Ah, Aku bersyukur kamu kembali baik - baik saja.
***
Kejadian serupa tejadi kembali di tahun ini. 
Saat ini pun aku sedang menatapmu lamat - lamat. Dirimu yang sibuk tak jelas. Aku jadi tak berani mengganggu. Takut - takut aku berada di dekatmu. Bertanya satu hal kau mengelak lantas keluar bergabung dengan yang lain. Bercanda berusaha menyembunyikan kepiluan. Kedatanganku kembali ke kosanmu setelah cukup lama tak berkunjung juga sama dengan kedatanganku tahun lalu. Namun, aku cukup tahu pasti masalah yang kau alami. Kedatanganku ini pun sama setelah seorang kakak yang lain bertanya soal kamu padaku. Dan ia menitipkan sebuah misi yang harus kulaksanakan. Tapi berkali - kali aku mencoba membuatmu membuka diri soal masalah yang melandamu berkali - kali juga kau mengelak untuk memberi respon. Ah, aku menyerah sajalah. Kau tak membutuhkan aku. Aku tak peduli. Walau sebenarnya perih dalam hati saat senyum kebahagiaan yang tulus itu hilang dari wajah kurusmu
Tapi, sungguh aku tau mau diam saudariku aku ingin membantu meski aku tahu sulit membuatmu mau berbagi. Lantas, aku bertanya apa yang sudah kuamalkan soal teori ukhuwah itu. Membangun kata "saling" itu ternyata tak mudah. Tapi, aku tetap ingin bersamamu pergi ke Surga membuat para nabi dan syuhada itu cemburu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar